klasifikasi ilmu

KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-‘AMIRI

             Klasifikasi ilmu

Dalam perkataan al-‘Amiri tersebut, dia mengklasifikasi ilmu menjadi dua bagian utama, yaitu ilmu-ilmu rasional (al-‘ulu>m al-hikmiyyah) dan ilmu-ilmu relijius (al-‘ulu>m al-milliyyah). Ghurab mengatakan bahwa meskipun al-‘Amiri mendalami ilmu-ilmu filosofis sehingga dia dijuluki Filsuf Nishapur, tapi inti pengetahuannya adalah ilmu-ilmu Islam seperti terlihat dalam penjelasannya tentang klasifikasi ilmu.[29] Pandangan ini diisyaratkan juga oleh Nasr yang mengatakan bahwa pandangan-pandangan al-‘Amiri yang membela Islam di dalam karyanya al-I‘lam bi Mana>qib al-Isla>m dapat dipandang unik di antara literatur-literatur Peripateis. [30]

            Ilmu filosofis

Al-‘Amiri menyebut ilmu-ilmu filosofis dengan istilah al-‘ulum al-hikmiyyah. Yang dia maksud dengan al-‘ulu>m al-hikmiyyah adalah ilmu-ilmu yang mencakup metafisika, matematika, dan ilmu-ilmu empiris, seperti aritmetika, geometri, astronomi, mekanika, dan ilmu-ilmu fisika yang mencakup zoologi, botani, dan minerologi, selain ilmu kedokteran dan farmakologi.

Al-‘Amiri membela ilmu-ilmu ini dan menyatakan bahwa mempelajarinya adalah wajib. Dalam pembelaannya, dia menekankan:

1. Wahyu selaras dan tidak bertentangan dengan akal.

2. Islam menyerukan ilmu yang bermanfaat apa pun jenisnya.

3. Kajian terhadap ilmu matematika dan ilmu empiris menjelaskan bahwa penciptaan dan pengaturan alam semesta tidak berbasis kebetulan, kekacauan, atau kesia-siaan, tapi berbasis keteraturan, kebijaksanaan, dan berdasarkan hukum yang tidak berubah-ubah, sehingga ilmu ini akan menolong pengkajinya untuk menemukan hikmah penciptaan berbagai makhluk dan hukum kausalitas yang mengatur keberadaan, fungsi, dan relasi makhluk-makhluk itu.

4. Metode ilmu-ilmu ini adalah demonstratif sehingga jiwa kirits umat Islam akan terlatih dan mereka tidak menerima klaim tanpa dalil dan pernyataan tanpa bukti, sehingga iman mereka akan berdasar pada penerimaan dan pemahaman, dan bukannya taklid buta.

5. Mempelajari ilmu-ilmu ini jelas memberikan manfaat bagi umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus.[31]

             Ilmu relijius

Al-‘Amiri menyebut ilmu relijius atau ilmu keagamaan dengan istilah al-‘ulum al-milliyyah. Yang dia maksud dengan al-‘ulu>m al-milliyyah adalah ilmu-ilmu agama Islam, yaitu seperti yang dia sebutkan sendiri, ilmu hadith, ilmu fikih, ilmu kalam, dan ilmu bahasa dan sastera. Al-‘Amiri juga seorang pakar dalam ilmu-ilmu ini dan dia membelanya dengan pembelaan yang sangat indah. Pertama, secara umum, ketika membahas ilmu-ilmu ini secara umum, yakni tentang dasar-dasarnya, keterikatannya dengan wahyu, dan khidmatnya bagi agama, al-‘Amiri menegaskan bahwa ilmu-ilmu ini merupakan ilmu-ilmu yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya. Dia mengemukakan tiga alasan:

1. Ilmu-ilmu ini dapat meneguhkan keyakinan dan penghambaan manusia kepada Allah dengan mengenalkan agama yang benar. Sebab, manusia tidak akan dapat menunaikan hak-hak Allah kecuali dengan mengetahui agama-Nya yang benar.

2. Ilmu-ilmu ini tidak hanya memenuhi kebutuhan individual, tapi juga kebutuhan masyarakat, bahkan umat manusia, karena ilmu-ilmu ini bertujuan kebaikan secara universal dan mengupayakan manfaat yang meliputi seluruh makhluk.

3. Ilmu-ilmu ini lebih utama daripada ilmu-ilmu rasional karena ilmu-ilmu rasional berbasis akal manusia yang dapat salah dan sesat, sedangkan ilmu-ilmu ini berbasis pada pondasi yang meyakinkan dan bersumber pada cahaya wahyu ilahi yang tidak dapat diragukan dan tidak mungkin terjadi kesalahan atau kelupaan padanya.

Kemudian, secara khusus, al-‘Amiri memuji ilmu-ilmu agama satu per satu. Misalnya, tentang ilmu hadith, dia mengatakan:

Tidak dapat diragukan bahwa para ahli hadith-lah orang-orang yang paling peduli untuk mengetahui sejarah yang mendatangkan manfaat dan madarat, yang mengetahui orang-orang terdahulu dengan nasab, tempat tinggal, jumlah umur, murid, dan guru mereka. Bahkan, merekalah para peneliti hadith-hadith agama yang sahih dan tidak sahih, yang kuat dan lemah. Mereka bersusah payah pergi dan diam di negeri-negeri yang jauh untuk mengambil aturan-aturan Rasulullah saw dari orang-orang yang terpercaya. Mereka bekerja keras mengkritisi cerita dan menyelami berita sehingga mereka mengetahui mawquf, marfu‘, musnad, mursal, muttasil, munqati‘, nasib, mulsiq, mashhur, mudallas. Mereka melindungi ilmu mereka sehingga jika ada orang yang hendak membuat hadith palsu, mengubah sebuah sanad, menyimpangkan sebuah matan, atau menyelundupkan kepadanya seperti apa yang telah diselundupkan ke dalam cerita-cerita sastera, maka mereka semua akan mencecar orang itu dengan penolakan yang sengit.[32]

Al-‘Amiri juga memuji para teolog Muslim karena mereka telah menjelaskan akidah Islam, serta membela dan meneguhkannya dengan dalil-dalil yang jelas dan rasional. Mereka telah melakukan dakwah dengan hikmah, maw‘izah hasanah, dan muja>dalah bi al-lati> hiya ahsan. Mengajarkan Islam dengan metode ini tidak kalah pentingnya daripada membela Islam dengan senjata. Bahkan, al-‘Amiri menegaskan bahwa kebutuhan Islam kepada penegasan dan penguatan ajaran dengan kata-kata lebih besar daripada kebutuhan kepada penegasan dengan kekuatan militer. Karena itu, Islam tidak mengijinkan penggunaan senjata kecuali jika telah menegakkan dakwah dengan hikmah dan maw‘iz}ah hasanah.[33]

Kesimpulan

Pandangan epistemologis al-‘Amiri tentang ilmu dan klasifikasinya telah menjadi jembatan pemikiran antara al-Kindi dan al-Farabi dengan Ibnu Sina dan memberikan dasar-dasar pemikiran yang kuat untuk harmonisasi akal dengan wahyu yang akan menjadi ciri khas mayoritas filsuf muslim pada abad-abad berikutnya. Gagasannya tentang ilmu ini juga mendasari sistem pemikiran al-‘Amiri secara umum terutama pada saat dia menguraikan pandangannya tentang manusia dan pada saat dia mengkomparasi ajaran Islam dengan ajaran agama-agama lain.

KLASIFIKASI ILMU MENURUT AL-FARABI, AUGUSTE COMTE

ABSTRAK

Klasifikasi ilmu merupakan salah satu tema yang terus-menerus muncul dalam khazanah keilmuan Islam maupun Barat. Hal ini bisa dimaklumi karena masalah klasifikasi ilmu merupakan salah satu kunci untuk memahami tradisi intelektual. Dalam tradisi intelektual Islam, misalnya, upaya islamisasi ilmu takkan mungkin mencapai tujuannya jika visi tentang klasifikasi ilmu tidak dimengerti sebelumnya. Sejak Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga Quthb Al-Din Al-Syirazi, serta generasi-generasi sarjana Muslim lainnya telah banyak mencurahkan bakat dan kejeniusan intelektual mereka untuk menjelaskan tema ini secara rinci. Begitu juga dalam khazanah keilmuan Barat, sejak Claude-Henri de Saint-Simon, Christian Wolff, Auguste Comte, Karl Raimund Popper, Thomas S. Kuhn, hingga Jurgen Habermas juga telah membuat klasifikasi ilmu dengan cara pandang yang menempatkan seluruh ilmu pengetahuan dalam tataran yang sama.

Tak diragukan bahwa Al-Farabi dan Auguste Comte memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk dan mengembangkan sistem pemikiran orang-orang yang mempraktikkan, memelihara, dan mempertahankan filsafat mereka. Dalam masyarakat Muslim misalnya, ide-ide dan pemikiran Al-Farabi (870-950 M) sangat populer karena dianggap sebagai pendiri dan salah seorang wakil terkemuka aliran utama filsafat Islam, yaitu aliran masysya’i (peripatetik) filsuf-ilmuwan. Di lain pihak, dalam masyarakat Barat, pemikiran Auguste Comte (1789-1857 M) masih memiliki gema yang luas karena “filsafat positivisme”-nya dipandang menjadi cikal-bakal perkembangan ilmu pengetahuan tentang masyarakat atau sosiologi.

Berkaitan penting dengan pokok bahasan penelitian kepustakaan (library research) ini, penyusun menggunakan metode analisis data yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran Al-Farabi dan Auguste Comte sebagai tema sentral dalam membicarakan persoalan klasifikasi ilmu. Di pihak lain, usaha untuk memperkuat argumentasi, penyusun memerlukan pemikiran-pemikiran orang lain, baik melalui buku-buku maupun artikel-artikel. Model analisis seperti ini biasa disebut dengan analisis taksonomi, yaitu analisis yang memusatkan penelitian pada domain tertentu dari pemikiran tokoh.

Untuk memudahkan penelitian, penyusun menggunakan perangkat metode:

(1) Deskripsi, yakni dengan mengutip langsung pendapat-pendapat Al-Farabi dan Comte,

(2) Interpretasi, yang penyusun gunakan untuk menafsir makna dari pemikiran kedua tokoh, dan

(3) Heuristik, yaitu mencari dimensi baru dari suatu persoalan yang telah banyak dibahas. Di samping itu, penyusun mengajukan suatu pendekatan komparatif-filosofis guna melacak garis-garis pembatas, dasar-dasar serta basis metodologis klasifikasi ilmu yang mereka berikan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Setelah melakukan penelusuran dan pengkajian ditemukan bahwa Al-Farabi dan Comte sampai kepada cara yang hampir sama, meskipun tidak identik, dalam menyusun klasifikasi ilmunya. Kesamaan dan perbedaan klasifikasi ilmu kedua filsuf setidaknya terinci dengan beberapa sasaran; Pertama, klasifikasi dimaksudkan sebagai petunjuk umum ke arah berbagai ilmu. Kedua, berbagai bagian dan sub-bagiannya memberikan sarana yang bermanfaat dalam menentukan sejauh mana spesialisasi dapat ditentukan secara sah. Dan ketiga, klasifikasi ilmu menginformasikan kepada para pengkaji tentang apa yang seharusnya dipelajari sebelum seseorang dapat mengklaim diri ahli dalam suatu ilmu tertentu.

KLASIFIKASI ILMU MENURUT IMAM KHOMEINI

Secara umum, Imam Khomeini membagi ilmu dari– dari sisi kemanfaatnya—menjadi tiga jenis ilmu, yakni: Pertama, ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan tahap-tahap eksistensi manusia sebagai tujuan akhir penciptaan. Kedua, ilmu-ilmu yang merugikan manusia dan membuat manusia melalaikan kewajiban-kewajiban pokoknya. Ketiga, ilmu-ilmu yang tidak membawa mudharat dan tidak pula membawa manfaat. Kebermanfaatan ilmu terkait erat dengan kegunaannya dalam mendukung evolusi-kemanusiaan manusia menuju kesempurnaan dirinya. Sampai saat ini, manusia terus-menurus berada dalam proses evolusi. Namun, menurut Murtadha Muthahhari, evolusi yang dijalani manusia, sejak kemunculan homo sapiens, adalah evolusi kemasyarakatan, kejiwaan dan pemikiran, bukan evolusi biologis dan fisiologis lagi. Suatu evolusi menuju kesempurnaan diri manusia. Dalam evolusi kemanusiaan itu, manusia mengalami dan memiliki tiga macam alam, maqam dan fase.

Menurut Imam Khomeini, manusia memiliki tiga alam, maqam, dan fase. Ia menjelaskan,”pertama, fase akhirat yang merupakan alam ghaib. Yakni maqam spiritual dan akal; kedua, fase barzakh yang merupakan jembatan antara kedua alam, yaitu maqam khayal dan ketiga, fase dunia yang menjadi daerah kekuasaan mulk (fisik) dan alam kasat indra (‘alam syahadah).“

Tiga alam tersebut saling berkorelasi. Khomeini menulis,“misalnya, kalau orang menunaikan tugas-tugas peribadatan dan ritus-ritus lahiriah sesuai dengan yang ditetapkan oleh para nabi, jiwa dan hatinya akan terpengaruh oleh pelaksanaan ritual-lahiriah tersebut. Akibatnya, akhlak dan budi pekertinya akan membaik, seiring dengan penyempurnaan dalam keimanan dan keyakinannya.” Jadi,,”semua (tingkatan) alam itu sesungguhnya adalah wajah dan penampakkan yang berbeda dari realitas yang tunggal.” Singkatnya,”tak boleh dibayangkan bahwa kita dapat memiliki keimanan yang sempurna dan akhlak yang baik tanpa melakukan amal-amal lahiriah dan ibadah fisik yang telah digariskan. Apabila akhlak kita cacat dan tidak baik, perbuatan (lahiriah) kita sempurna dan iman kita sempurna, atau bahwa tanpa iman di hati kita, amal-amal lahiriah kita dapat sempurna dan akhlak kita pun dapat sempurna.” Bahkan Bagi Khomeini,”kalau amalan-amalan formal kita yang antara lain tercakup dalam shalat, puasa dan haji tidak sempurrna dan melennceng dari ajaran para nabi dan imam, niscaya timbul hijab di dalam hati dan kekeruhan dalam ruh yang pada gilirannya akan mencegah masuknya cahaya keimanan dan keyakinan.”

Selanjutnya, Khomeini memandang bahwa, ”setiap fase ini memiliki kesempurnaannya yang khas dan pendidikannya yang khas, dan seperangkat aturan dan perilaku yang sesuai dengannya.” Oleh karena itu,” semua ilmu yang bermanfaat dapat dibagi menjadi tiga ilmu ini: Ilmu yang berhubungan dengan kesempurnaan-kesempurnaan (kamalat) akal dan tugas-tugas spiritual, ilmu yang berhubungan dengan perilaku-perilaku dan tugas-tugas fisik dalam kehidupan lahiriah jiwa,”tambah Imam Khomeini. Klasifikasi ilmu didasarkan pada kesempurnaan-kesempurnaan yang ada pada tiap alam, maqam dan fase hidup manusia.

Klasifikasi Ilmu

Khomeini mengklasifikasikan ilmu berdasarkan hadis Rasul Saw. Hadis yang dikutip Khomeini adalah hadis yang menceritakan bahwa suatu hari Rasul saw memasuki masjid yang di dalamnya ada sekolompok orang sedang mengelilingi seorang laki-laki. “siapa itu? tanya Nabi.”Dia seorang ‘allamah (orang yang sangat alim).” “apa itu ‘allamah? tanya Nabi lagi. ”Dia adalah orang yang sangat mengetahui soal silsilah, sejarah masa lalu, zaman jahiliah, dan syair Arab.” Nabi berkata,”itu adalah ilmu yang tidak merugi jika orang tidak mengetahuinya dan juga tidak beroleh untung jika orang mengetahuinya.” Lalu, Nabi bersabda,”sesungguhnya ilmu terbagi atas tiga hal berikut: ayah muhkamah (petunjuk yang kuat), faridhah ‘adilah (tugas yang seimbang), dan sunnah qaimah (sunah yang mapan). Selain itu, kurang ada gunanya.”

Khomeini menjelaskan makna hadis tersebut bahwa,”…’tanda yang kuat’ (ayat muhkamat) menunjukkan ilmu-ilmu rasional dan doktrin-doktrin yang sejati serta ajaran-ajaran Ilahi; ’Kewajiabn yang adil atau tugas yang seimbang’ (faridhah ‘adilah) menunjukkan ilmu-ilmu akhlak dan penyucian diri. ‘sunnah yang mapan’ (sunnah qaimah) menunjukkan ilmu tentang aspek lahiriah serta perilaku tubuh (yang melibatkan gerakan fisik tertentu). “

Jika ditanyakan, mengapa disebut ayat muhkamat? Khomeini menjawab,“…ayat adalah sesuatu yang khusus untuk ilmu-ilmu (akal dan jiwa) yang berkaitan dengan doktrin (ulum ma’arif). …muhkam (kuat, tepat, tidak bermakna ganda) juga sesuai dengan ilmu-ilmu ini, karena ilmu-ilmu ini tunduk pada kriteria intelektual dan didasarkan pada dalil-dalil rasional yang kuat (burhan muhkam).” Dan mengapa disebut faridhah ‘adilah ? “…karena kebajikan (khulq hasan), sebagaimana ditunjukkan dalam ilmu itu berdiri antara dua ektrem: keberlebihan dan pengabaian (kekurangan), atau ifrath dan tafrith, dan kedua ektrem ini tercela, sedangkan keadilan (‘adilah) artinya jalan tengah di antara kedua ektrem itu, yang bersifat terpuji,”tulis Khomeini. Kemudian, mengapa disebut sunnah qa’imah? “sifat ilmu tersebut pada umumnya tidak dapat memahami dasar pemikirannnya oleh akal,”jelas Khomeini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s